Oleh : Radinal Mukhtar Harahap (Pembimbing kopS Medan)
Terhitung sampai hari ini, ketika umurku 21 tahun, aku telah menghabiskan 13 tahun umurku hidup dikalangan para santri dan juga menjadi santri. Pertama, ketika aku masih menempuh pendidikan di Pekan Baru. Aku tinggal di sekeliling pesantren Babussalam, Pekan Baru. Aku tinggal di sana selama lima tahun, tepatnya sejak kelas dua SD sampai tamat. Kedua, dan ini yang paling berkesan dalam sejarah hidupku, yaitu ketika aku menempuh pendidikan sekolah menengah pertama dan atas di pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Di sana, aku menghabiskan waktu 6 tahun. Dan dari pesantren itu pulalah akhirnya saya mendapatkan beasiswa untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya sambil nyantri di Pesantren Mahasiswa. Namun, sejak 13 tahun itu pulalah, aku memperhatikan kurangnya minat santri dalam dunia kepenulisan. Tak tahu apakah ini hanya pendapat yang salah. Namun setidaknya, saya melihat ada 3 alasan, yang sangat di besar-besarkan, santri untuk enggan menulis.
Tidak ada waktu menulis karena harus menghafal. Dalam kehidupan santri, kebiasaan menghafal memang lebih dominan dari pada menulis. Bahkan dalam buku “Masa Depan Pesantren; dalam tantangan modernitas dan tantangan komplesitas global”, Amin Haedari lebih menjelaskan tentang tata cara belajar di pesantren seperti sorogan dan bandongan yang lebih mengutamakan hafalan ketimbang tulisan.
Tidak ada media untuk menulis. Sebagaimana kendala banyak penulis pemula, santri rupanya juga mengalami hal demikian. Media untuk menulis yang minim, dikarenakan kebiasaan santri menghafal kitab-kitab kuning maupun tidak tersedianya akses kepada media, sering menyurutkan minat santri dalam menulis.
Tidak ada motivasi khusus untuk menulis. Ya. Sangat jarang sekali di temukan pesantren yang memotivasi santrinya untuk menulis. Para asatidz lebih senang untuk memotivasi santri agar menghafal bait-bait syair dan nadzom ketimbang menyuruh santri untuk menuliskan syarah dari bait-bait syair dan nadzom itu sendiri.
NB: Sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, ketiga permasalahan diatas adalah ALASAN YANG DIBESAR-BESARKAN oleh para santri untuk tidak mulai menulis. **
Lantas, pertanyaannya kemudian, apakah santri memang di fokuskan untuk menghafal? Tidak menulis? Selamatkan ilmu dengan menulis Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Ilmu itu bagaikan hewan peliharaan # Maka ikatlah ia dengan Tulisan” Tak dapat di pungkiri lagi, ilmu yang di berikan kepada santri sangatlah banyak. Ini dapat dipahami karena ajaran agama itu sangatlah luas, meliputi dunia dan akhirat. Untuk itulah, menulis adalah salah satu faktor penting untuk menjaga khazanah keilmuan para santri. Menulislah dan selamatkan ilmu!
Tebar dakwah Salah satu tujuan didirikannya pesantren adalah untuk menebar dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Ini membuktikan bahwa santri juga sangat di harapkan untuk mampu mengambil peran dalam tersebarnya dakwah islam di Indonesia bahkan dunia. Namun sayangnya, dakwah bil lisan sering lebih diminati para santri ketimbang dakwah bil qolam. Padahal, secara teoritis, dakwah dapat dilakukan dengan berbagai hal termasuk tulisan. Oleh karena itulah, demi tujuan pada nomor satu juga yaitu untuk menyelamatkan ilmu dan untuk menebar dakwah, menulis juga merupakan hal penting dalam dunia pesantren.
Bantu pesantren. Mendirikan pesantren, tujuan awalnya adalah untuk mempersiapkan generasi yang siap pakai dalam bermasyarakat. Tujuan yang mulia ini tidak akan terealisasi bila tidak ada santri yang belajar di pesantren. Oleh karena itulah, promosi dan iklan tentang pesantren gencar dilakukan, apalagi di saat pembukaan pendaftaran santri baru. Dengan menulis, seorang santri telah membantu pesantrennya dalam mempromosikan pesantren tersebut. Terlepas apakah ia mempromosikan pesantrennya secara langsung atau tidak, usahanya untuk mempromosikan pesantren tersebut telah banyak membantu. Minimal dua pihak, pertama pesantren itu sendiri dan yang kedua para orang tua yang ingin mencari pesantren untuk kelanjutan pendidikan anaknya. Setelah mengetahui urgensi kepenulisan sebagaimana diatas, tidak salah bila kemudian kita harus menyepakati bahwa SANTRI HARUS MENULIS.
Ya, alirkan saja idemu dalam tulisan. Jangan berpikir tentang tulisan yang jelek atau bagus. Karena pikiran tersebut akan menghambat dan mengganggu proses mengalirkan gagasanmu. Alirkan saja sebisa mungkin, semampu mungkin, bila perlu imajinasinya ’seliar’ mungkin. Oya, kata “seliar” harap digaris bawahi dengan pengertian positif. Artinya, silakan gunakan improvisasi permainan kata dan memunculkan ide yang akan ditulis dengan sebebasnya tanpa khawatir salah atau jelek. Makin sering kita menulis, insya Allah akan makin mahir mengalirkan ide. Makin sering menulis, akan semakin lihai dalam membanjirkan ide dalam tulisan kita. Jujur saja, saya sering merasa kewalahan manakala ide sudah banyak dan ingin segera mengalirkannya dalam sebuah tulisan, dan kadang sulit dihentikan begitu saja. Silakan rasakan sendiri pada suatu saat dimana kamu udah sering melatih diri menulis. Rasakan!
Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para penulis pemula atau mereka yang hendak belajar menulis adalah: “Bagaimana cara mengalirkan gagasan atau ide yang kita miliki dalam sebuah tulisan?” Jawaban saya sederhana: Segera alirkan ide lewat tulisan sebagaimana kita melepas sumbatan yang bercokol di pipa atau selokan jalan air sehingga air akan mengalir deras karena sudah tak kuasa ditahan oleh sumbatan. Dalam menulis, menurut saya, sumbatan itu bisa banyak: malas; takut salah; takut gagal; dan khawatir karyanya jelek. Umumnya sih daftar sumbatannya ya seperti itu.
Malas? Waduh, ini sih penyakit paling sering diderita siapapun, termasuk penulis: baik penulis senior maupun penulis pemula. Kalo udah malas, nggak ada obat mujarab selain berontak terhadap rasa malas itu. Tataplah dunia luar. Lihat orang lain yang berada di depan kita. Mungkin saja mereka berada selangkah lebih jauh atau malah ratusan langkah meninggalkan kita yang diam termangu tanpa bisa berbuat apa-apa. Tidakkah kita tergerak mengejarnya? Membuang semua rasa malas yang bersarang di dalam pikiran dan perasaan kita. Kalo nggak tergerak, kayaknya siap-siap aja makin jauh ketinggalan. Rasakan! Rasakan bagaimana perihnya tertinggal dan ditinggalkan oleh mereka yang berhasil ketimbang diri kita. Insya Allah, dengan menatap lingkungan sekitar, akan menjadi cambuk untuk menghempaskan rasa malas kita.
Rasa malas hanya akan tetap berbaring di pikiran dan perasaan kita, saat kita merasa tak perlu suasana kompetisi dalam hidup ini. So, segeralah menulis. Kuatkan pikiranmu untuk mengumpulkan semua ide yang mungkin saja sudah menumpuk di benakmu. Lihat, orang lain yang sudah jauh meninggalkan kita dengan tulisan-tulisan yang dibuatnya, dengan buku-buku yang berhasil diterbitkannya. Ayo bangkit dari tidur lelapmu, buang rasa malas. Jangan sampe deh kita bengong saat orang lain telah banyak menorehkan catatan amal baik yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain. Keuntungannya? Insya Allah buat kita sendiri, karena telah menyebarkan kebenaran, telah menyampaikan kebaikan, dan telah memberikan banyak inspirasi kepada orang lain. Insya Allah kita bisa melakukannya. Bisa kok.
Selain rasa malas, sumbatan dalam diri kita yang menghalangi proses kreatif kita dalam menuangkan gagasan dan membanjirkannya adalah perasaan “takut salah”. Hmm.. siapa sih orang yang pengen salah? Nggak ada. Semua orang pasti ingin dianggap selalu benar di hadapan orang lain, meskipun kadang melakukan kesalahan. So, sebenarnya nggak ada yang salah dengan kesalahan yang kita buat. Maksudnya, kalo memang salah ya salah. Akui kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaikinya di kemudian hari. Jadi kita bisa belajar dari kesalahan yang kita buat. Justru yang aneh bin ajaib adalah orang yang sudah tahu salah tapi nggak mau mengakui kesalahan dan merasa tak perlu memperbaiki kesalahannya. Itu yang salah dari kesalahan yang dibuatnya.
Nah, sumbatan berupa perasaan “takut salah” harus dihempaskan dari pikiran dan perasaan kita. Meskipun hal itu tampak wajar dan manusiawi, tapi gimana jadinya kalo sampe menguasai dan mendominasi pikiran dan perasaan kita sehingga membuat kita jadi tidak berani untuk menulis? Menulislah, dan jangan pernah takut salah. Sebab, kita bisa belajar dari kesalahan. Jangan khawatir. Justru adanya “kesalahan” bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Insya Allah.
Bagaimana dengan perasaan “takut gagal”? Hmm… ada baiknya membaca pernyataan Michael Crichton yang menulis novel JurrasicPark, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda agal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.”
Jadi, menurut saya sih, nggak perlu takut gagal. Sebab gagal itu biasa, justru yang luar biasa itu adalah mampu bangkit dari kegagalan dan jangan pernah takut gagal. Jalani aja apa adanya. Toh, sama seperti kesalahan, kita bisa bisa belajar dari kegagalan. Setuju kan?
Terakhir, tak perlu merasa khawatir dengan hasil akhir tentang jelek atau buruknya tulisan kita. Misalnya, orang lain bacanya aja bingung, pembaca malah nggak tahu maksud dari yang kita tulis, gaya bahasanya berantakan, EYD-nya nggak karuan. Buang jauh-jauh perasaan “khawatir jelek” tersebut dari pikiran dan perasaan kita. Karena itu akan menghambat proses kreativitas kita dalam menulis. Waktu saya jadi redaktur majalah PERMATA, ada penulis remaja yang sering mengirimkan karyanya dan selalu kami tolak dengan alasan memang tidak memenuhi standar baik isi maupun masalah teknis penulisannya. Tapi rupanya dia sangat semangat untuk kirim hasil tulisannya.
Dan buktinya, sebagaimana umumnya sebuah keterampilan, maka semakin sering menulis akan kian tampak hasilnya. Ya, akhirnya, kalo nggak salah pada tulisan yang keenam yang dikirimnya kepada kami kemudian kami muat di majalah. Sebab, ada tampak kemajuan dari gaya penulisan maupun isinya. Ini menjadi bukti bahwa semakin sering menulis akan membuat kita jadi mahir menuangkan gagasan dan memoles kualitas pesan yang disampaikannya. Rasakan dan percayalah!
Oke deh, semoga tulisan sederhana yang saya buat ini bermanfaat bagi siapa pun yang mengambil manfaatnya. Jadi, segera alirkan idemu dalam sebuah tulisan. Jangan tunggu esok hari, laksanakan sekarang juga dan rasakan hasilnya setelah sering berlatih. So, jangan pernah berhenti nulis!
Menulis cerpen adalah salah satu “jalan pintas” yang paling sering digunakan seseorang untuk merintis jalan menjadi seorang penulis. Sebelum menjadi
penulis beken, biasanya seseorang memulai dengan menulis cerpen di media massa atau majalah-majalah remaja. Cara seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh
dengan menulis cerpen, sebenarnya kita juga sedang berbagi ideologi dari kisah-kisah pendek tersebut sebagaimana menulis novel, opini, artikel bahkan buku
bacaan.
Namun demikian, banyak juga yang tidak jadi melanjutkan cita-citanya sebagai penulis hanya karena tidak dapat menyelesaikan cerpennya. Ada yang tidak tahu
darimana mulai menuliskannya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerpennya. Celakanya, ketika ia tidak mengetahui hal tersebut, ia langsung
mengutuk dirinya bahwa ia benar-benar tidak berbakat menjadi penulis.
Sebenarnya, tidak ada teori yang pasti mengenai penulisan cerpen. Namun, setidaknya tips dibawah ini dapat digunakan untuk memulai menulis cerpen. Yang
penting untuk diingat, tips berikut adalah alat bantu untuk menulis cerpen. Jika kelak tips ini tidak membantu bahkan menyusahkan, jangan sungkan-sungkan
untuk melupakannya.
Menentukan Tema Besar
Penentuan tema merupakan hal yang paling penting dalam penulisan cerpen. Sebelum membuat cerpen, setidaknya kita harus menentukan titik tekan (stressing
point) dari cerpen tersebut. Ada banyak pilihan tema besar yang bisa kita pilih, diantaranya yaitu persahabatan, percintaan, sosial, budaya, sejarah,
politik, sains dan tekhnologi, agama, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita memilih tema besar SEJARAH. Dari tema inilah kelak, kita akan membuat cerpen.
Menentukan Ide Cerita
Setelah kita menentukan tema besar, kita pastinya mempunyai ide-ide cerita yang berkaitan dengan tema besar tersebut. Percintaan misalnya, dalam hal ini kita
bisa menemukan ide tentang pernikahan, perjumpaan pertama, rebutan pacar, saling kirim surat, dan lain sebagainya. Sangat banyak ide yang berkeliaran tentang
tema percintaan. Begitu juga dengan tema-tema lainnya.
Dalam hal ini, ada satu hal yang filosofi menulis yang perlu kita ingat. “Janganlah memikirkan apa yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang sedang
dipikirkan!” tulislah ide-ide itu sebanyak-banyaknya. Jangan pernah takut salah. Toh, ini belum menjadi cerpen. Hanya pencatatan ide saja. Karena tadi kita
telah memilih SEJARAH sebagai tema besar, kita mungkin bisa mencatat ide sebagai berikut: cerita nabi, sejarah kemerdekaan, dongeng-dongeng masyarakat, malin
kundang, sangkuriang, dan lain sebagainya.
Mengembangkan Ide
Nah, inilah saatnya kita mengembangkan ide-ide tersebut. Dari sekian banyak ide yang kita tuliskan, tentulah ada satu ide yang sangat akrab ditelinga bahkan
telah ada gambaran mengenai jalan ceritanya. Itulah yang harus kita kembangkan.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu kita ingat adalah TEORI MENULIS ITU MUNCUL SETELAH ADA TULISAN. Jadi, tulislah sesuka hati, jangan pernah memikirkan
apakah cerpen kita sesuai EYD atau tidak. Cerpen tersebut masuk akal atau tidak. Tokoh cerpen ini menarik atau tidak. Setting kejadiannya sesuai dengan
aslinya atau tidak. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Dari ide diatas tadi, kita akan mengembangkan cerita nabi terkhusus nabi Ibrahim.
Merias Cerpen
Setelah ide tersebut kita kembangkan hingga dirasa cukup dan selesai, kini tibalah saatnya kita merias cerpen tersebut. Ingatlah sebuah teori yang mengatakan
bahwa TIDAK ADA TULISAN YANG BAGUS KETIKA DITULIS PERTAMA KALINYA. Semua tulisan pastilah melalui proses editing. Dalam proses inilah, kita perlu memikirkan
EYD, masuk akal atau tidaknya cerpen, tokohnya menarik atau tidak, dialognya terlalu formal atau nyata, setting kejadiannya sesuai asli atau tidak.
Kita juga perlu memikirkan apakah akhir dari cerpen ini memuaskan pembaca atau tidak. Mudah ditebak atau tidak. Jika semuanya telah cukup, selamat cerpen
tersebut telah selesai.
Sebagai contoh berikut cerpen saya yang berhasil saya tulis dan telah dimuat di Nalar Magazine Edisi Pertama
“Aku mau jadi penulis, tapi ga’ tau mau menulis apa?”
“Katanya menulis itu mudah, padahal susah minta ampun!”
“Kapan ya… Aku jadi penulis seperti kang Abik dan Andrea Hirata?”
Begitu banyak pernyataan-pernyataan seperti diatas dalam dunia kepenulisan. Walau berbeda dalam redaksi, pernyataan-pernyataan tersebut mengerucut kepada satu permasalahan. BAGAIMANA CARA MENULIS?
Ya.. Bagaimana cara menulis?
Banyak penulis-penulis hebat yang mengatakan bahwa cara menulis adalah menulis, menulis, dan menulis.
“Tapi kenapa aku tidak juga menjadi penulis?”
Teman! Ingatlah satu hal. Walaupun kamu mengikuti pelatihan yang paling mahal, di gedung yang paling mewah, di daerah paling maju sekalipun, yang kamu dapatkan hanyalah sebatas MOTIVASI tidak lebih dari itu.
Begitu juga dengan tulisan ini. Walaupun kamu membacanya berkali-kali, kamu tidak akan menjadi penulis hebat sebelum melakukan beberapa hal yang akan saya bahas pada akhir tulisan ini.
KUNCI PERTAMA: TETAPKANLAH MOTIVASI
Ya.. MOTIVASI
Setiap orang yang ingin menjadi penulis, harus mampu menetapkan motivasi menulisnya terlebih dahulu. Karena dengan motivasi inilah, ia dapat terus menulis, menulis dan menulis. Tanpa motivasi ia akan menulis tanpa roh, tujuan, dan cita-cita.
Ada yang menulis karena hobi, ada yang menulis karena ingin mengekspresikan diri, ada yang menulis karena ingin menjadi kaya. Pilihlah motivasi menulis anda. Ada juga yang menulis karena dakwah, ingin berbagi atau memang menjadi sebuah profesi sebagaimana wartawan.
Bagaimana? Apa motivasi menulis anda?
KUNCI KEDUA: HANCURKAN PENGHALANG
Penghalang? Apa aja tuh?
Pertama PIKIRAN NEGATIF
Yang dimaksud pikiran negatif disini adalah pikiran yang menjadikan kita tidak menulis. Saya tidak mempunyai bakat menulis. Saya sangat sibuk, ga’ sempat menulis. Tulisanku jelek. Aku cacat ga’ punya tangan.
Ingat teman, itu hanyalah pikiran negatifmu saja. Singkirkan semua itu dan mulailah menulis.
Kedua TAKUT GAGAL
Ya.. takut akan kegagalan sering menjadikan seseorang tidak menulis. Ia takut tulisannya ditolak oleh penerbit atau media massa. Ia juga takut bila tulisannya nanti menuai protes dari pihak-pihak lain. Sekali lagi, ini adalah perasaan-perasaan yang akan menjadi penghalang bagimu untuk menulis. Menulislah!
Ketiga KARAKTER YANG MERUSAK
Karakter yang dimaksud diatas adalah karakter yang merusak cita-cita menjadi seorang penulis hebat. Setidaknya ada tiga karakter yaitu tidak juga mulai menulis, membuang tulisan yang jelek, dan berhenti saat gagal untuk pertama kalinya atau telah sukses.
KUNCI KETIGA: MEMANFAATKAN MEDIA
“Wah.. kupunya banyak tulisan ni? Tapi tak tahu mau kemana disalurin?”
Teman! di era seperti ini, media untuk menulis SUNGGUH SANGAT BANYAK SEKALI. Selain media massa seperti koran, majalah, jurnal ataupun buku, kamu bisa menulis untuk skenario film. Kamu juga bisa mencoba-coba untuk menulis di dunia elektrik dengan membuat blog ataupun website pribadi.
Banyak kan? Ayo… Tunggu Apalagi!
KUNCI KEEMPAT: INILAH YANG TERPENTING
Setelah kamu menentukan motivasi dan menghancurkan penghalang-penghalang yang ada dalam dirimu, nah inilah saatnya untuk melakukan hal-hal yang terpenting dalam menulis.
Pertama menulislah. Ya.. menulislah… kalau tidak menulis, kapan kamu menjadi penulis?
Kedua membacalah. Tulislah apa yang kamu pahami dari suatu bacaan. Hernowo, penulis buku Mengikat Makna mengatakan bahwa membaca adalah proses menerima dan menulis adalah proses menyalurkan. Baca dulu, Baru nulis!
Ketiga berdisiplin. Tentukanlah waktu-waktu menulis yang paling baik dan berdisiplinlah. Malam? Ketika tidak ada suara dan keributan? Subuh? Pagi sebelum masuk sekolah atau mulai bekerja? Sore? Sambil meminum kopi dan menyantap gorengan?
Keempat jangan berputs asa. Teruslah berjuang. Ingatlah, yang paling menarik dari sesuatu adalah proses menjadi, bukan hasil akhir. Jadi, Berjuanglah!
Kelima mulailah dari sekarang. Ya, tinggalkanlah bacaan ini, tulislah apa yang baru saja kamu pahami dari tulisan ini. selamat menulis!
Untuk menginjili umat Islam khususnya di Nias agar mengikuti jejaknya, pendeta Muhammad Bambang menulis buku Mengapa Saya Menjadi Orang Kristen (Islam Menjadi Kristen) yang diterbitkan oleh terbitan PLP Martua Agape Nias. Dalam buku 72 halaman tersebut, pendeta yang mengaku mantan Muslim fanatik kelahiran Bojonegoro Jawa Timur tahun 1964 ini mengungkapkan ketidakmengertiannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal surga, Bambang menuduh Allah tidak adil dan janggal karena hanya untuk laki-laki saja: “Allah itu tidak adil. Allah yang Maha Adil itu, justru digambarkan tidak adil atau sekurang-kurangnya menimbulkan kejanggalan-kejanggalan. Berdasarkan wahyu-Nya sendiri yang ada dalam al-Qur’an, jelas-jelas tertulis sebagai berikut: Di surga mereka (kaum pria) mempunyai istri-istri (an-Nisa: 57) karena dikawinkan dengan bidadari-bidadari yang cantik dan bermata jeli (ath-Thur: 20) dan disediakan dipan-dipan untuk tempat mereka bersukaria dengan bidadari-bidadari istri-istri mereka itu.
Oleh karenanya tidak lain kesimpulan kami ialah: “Tidak ada seorang wanita Muslim pun, walaupun dia super mukmin bisa masuk surga, karena mereka mau dikawinkan dengan siapa lagi disebabkan semua prianya, baik itu bekas suaminya atau pacarnya, baik itu idolanya ketika di dunia dulu, kesemuanya sudah dikawinkan dengan bidadari-bidadari yang seribu kali lebih cantik dan bermata jeli dari diri mereka. Dan di dalam al-Qur’an kami tidak menemukan sepatah wahyu Allah pun bahwa wanita-wanita yang beroleh keselamatan surgawi itu akan dikawinkan dengan malaikat-malaikat,” apa Ini Tidak Janggal?” (hlm. 60-61).
Dari tuduhan tersebut terlihat jelas betapa awamnya wawasan sang pendeta tentang bahasa Arab, Islam dan al-Qur’an. Dalam al-Quran, jika disebutkan kata-kata yang menggunakan lafal laki-laki (mudzakkar) berarti ditujukan pula untuk wanita, kecuali ada kekhususan dan perbandingannya antara laki-laki (mudzakkar) dan wanita (muannats).
Misalnya, dalam perintah shiyam (QS al-Baqarah 183) disebutkan Ya ayyuhal-ladziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman). Lafal dalam ayat ini memakai bentuk laki-laki jamak (jama’ mudzakkar), tapi maksudnya juga untuk wanita. Makanya, umat Islam yang berpuasa tidak hanya laki-laki saja, tapi wanita juga berpuasa.
Lain halnya jika al-Qur’an mengatakan dengan tegas, misalnya dalam surat al-Baqarah 282 disebutkan rajulun wamra`atani (seorang laki-laki dan dua orang wanita). Demikian pula dalam lafal salam: assalamu’alaikum, memakai lafal “kum” yang berarti “kalian” (para pria). Ucapan salam ini juga dipakai untuk para wanita tanpa mengganti kata ganti (dhamir) “kum” menjadi “kunna” (kalian para wanita).
Dalam surat an-Nisa: 57 yang dituduhkan oleh Pendeta Bambang, terdapat kata lahum fiihaa azwaajun muthahharatun yang maksudnya: “Bagi mereka jodoh-jodoh yang suci.” Umumnya para penerjemah mengartikan, “Bagi mereka istri-istri yang suci.”
Secara bahasa (lughawi), lafal azwajun/zaujun bisa bermakna laki-laki maupun perempuan karena kata ini memiliki sifat keumuman (taghlib/aghlabiyah). Tidak sebaliknya, kata zaujatun hanya boleh dipakai sebagai pengganti perempuan, tidak boleh dipakai untuk pengganti laki-laki. Karenanya, istri (jodoh/pasangan) Nabi Adam dalam surat al-Baqarah 35 disebutkan dengan lafal zaujuka. Kata zaujuka dalam ayat ini harus diartikan pasanganmu atau istrimu, tidak boleh diartikan “suamimu,” meskipun dalam kamus, kata zaujun berarti suami. Bukankah tidak mungkin Nabi Adam memiliki pasangan hidup seorang laki-laki?
Dengan demikian, surat an-Nisa 57 tidak bisa diartikan hanya pria saja yang bisa masuk surga. Karena Allah SWT Maha Adil, maka Dia tidak akan membeda-bedakan jenis kelamin hamba-Nya di surga. Apa pun jenisnya, baik laki-laki maupun wanita, asalkan beriman dan beramal shalih pasti akan masuk surga sesuai dengan janji-Nya dalam ayat berikut: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn,” (QS at-Taubah: 72).
Jika pendeta Bambang perlu ayat lain yang menyatakan bahwa di surga juga ada wanita, silakan baca surat al-Mukmin: 40, al-Fath: 5, az-Zukhruf: 70, an-Nahl: 97, al-ahzab: 35, dan lain-lain.
Jelaslah dalam ayat-ayat di atas, bahwa surga dalam Islam bukan monopoli laki-laki saja, tapi juga untuk wanita. Seturut dengan surat an-Nisa: 57, maka ahli surga baik laki-laki maupun wanita, mereka pun disediakan jodoh-jodoh yang suci. Inilah kesempurnaan surga dalam Islam, mencakup kebahagian dan kenikmatan jasmani dan ruhani yang tidak pernah dibayangkan maupun dibandingkan dengan segala kenikmatan duniawi.
Sebaliknya, azab Allah juga tak kenal diskriminasi. Apa pun jenisnya, baik laki-laki maupun wanita, jika kafir, munafik dan musyrik maka dia akan mendapat azab yang kekal di neraka jahanam (QS at-Taubah: 68, al-Ahzab: 73).
Setelah menelaah konsep Islam tentang surga yang sangat sempurna, sekarang pendeta Bambang harus tahu prinsip Bibel tentang nasib manusia setelah kematian. Menurut Bibel, nasib manusia sama dengan nasib binatang. “Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai napas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 3: 19).
Berdasarkan ayat ini, apakah Pendeta Muhammad Bambang mau disamakan dengan binatang, yang tidak punya kelebihan apa pun atas binatang?
WAHAI PEROKOK......... Wahai Perokok apa yang kau lakukan menghisapnya, siapakah yang memfatwakan...?] Apakah kau sangka, menghisap rokok adalah kenikmatan ataukah kau kira didalamnya terkandung makanan wahai pemuda, adakah didalamnya kemanfaatan sekali-kali tidak, ia adalah gangguan bagimu bahaya nampak dan busuknya bau dari badan nggak enak, lagi mengganggu kawan-kawan tubuh lemah dan loyonya persendian kekuatana melemah disamping sempitnya pernafasan harta terbuang dan tidak ada yang menggantikan selain asap pada perut yang kepenuhan kau rela karena rokok menjadi orang yang membuang-buang sedang saudara pemboros tidak perlu dipertanyakan jika kauy menarik nafas, setelah kau berada dalam sebuah pertemuan mereka jadi tak suka padamu karena bau yang memuakkan
Disadur dari buku NO SMOKING tidak merokok karena Allah karya Syaikh Mohammad Jamil Zainu
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ??
Kirim naskah kamu, baik itu artikel, tips n trik menulis, resensi, leadership, motivasi, komunikasi, cerpen, puisi, opini, dan lain sebagainya kepada redaksi. Jangan lupa, cantumkan pula informasi singkat seputar siapa kamu.
Hak cipta ada di penulis dan kamu boleh mempublikasikannya ditempat lain. Kecuali bila kamu ada kesepakatan dengan pihak tertentu (seperti redaksi/panitia lomba) untuk tidak mempublikasikannya. Maka bila ada kesepakatan dan kamu mendapat gugatan, itu bukan menjadi tanggung jawab kami. Karenanya, kami berharap naskah ASLI dari kamu dan bukan copas dari beberapa sumber (tanpa adanya hasil pemikiran kamutulisan kamu sendiri).
About Us
tulisan digital kopS Medanini gratis dan dapat di download oleh siapapun. Kami bersedia menerima naskah baik itu puisi, cerpen, artikel, resensi dsb, yang murni hasil karya kamu. Tentunya, karya yang masuk akan ada penyeleksian.
Memang, naskah yang dikirim tidak akan mendapat fee dari kami, namun setidaknya tulisan kamu akan banyak dibaca oleh orang lain dan bila ada redaksi yang tertarik dengan tulisan kamu, tidak menolak kemungkinan mereka akan menghubungi. Jadi, secara tidak langsung, majalah ini Insya Allah dapat menjembatani karir kamu, dan membuat kamu semakin termotivasi untuk berkarya semakin termasyhur bersama kami. :)
Kirimkan segera naskah kamu via e-mail ke kopsmedan@gmail.com